Sabtu, 28 April 2012

Model Pembelajaran Cerpen Piranti Peran


MODEL PEMBELAJARAN CERPEN
PIRANTI PERAN
Oleh: Moch. Kusairi


PENDAHULUAN

A.      RASIONAL


GBHN menegaskan perlunya diversifikasi kurikulum yang dapat melayani keanekaragaman kemampuan sumber daya manusia, kemampuan siswa dan sarana pembelajaran dan budaya di daerah. Diversifikasi kurikulum menjamin hasil pendidikan bermutu yang dapat membentuk masyarakat Indonesia yang damai, sejahtera, demokratis dan berbudaya.
Seiring  dengan perwujudan dan pemerataan hasil pendidikan yang berkualitas, diperlukan standar kompetensi bahan kajian mata pelajaran yang memuat kompetensi bahan pelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan dalm konteks nasional dan global. Salah satu standar kompetensi itu adalah model pembelajaran yang memuat bahan kajian yang harus dikuasai oleh pemelajar (guru).
Fokus hasil pendidikan yang berkualitas adalah siswa yang sehat, mandiri, berbudaya, berakhlak mulia, beretos kerja, berpengatahuan, dan menguasai teknologi serta cinta tanah air (Depdiknas, 2003:1). Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, yaitu belajar berbahasa. Belajar berbahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulis.
Dengan kerangka yang demikian itu, tentunya perlu adanya standar model pembelajaran kesusastraan (cerpen) yang searah dengan jiwa perubahan yang mendasar dalam pengelolaan pendidikan. Dalam hal ini guru dapat aktif menjabarkan standar model pembelajaran ini sesuai dengan keadaan dan kebutuhan siswa.


B.           Pengertian

Bahasa dan perwujudannya merupakan struktur, yang mencakup struktur bentuk dan makna. Dengan menggunakan wujud bahasa itu, manusia saling berkomunikasi, sehingga dapat saling berbagi dan saling belajar untuk meningkatkan intelektualnya. Dengan menggunakan bahasa manusia dapat juga melakukan kegiatan berekpresi dan berkreasi, sehingga terciptalah karya sastra (cerpen). Karya sastra pun dapat digunakan untuk berkomunikasi, sehingga perasaan, imajinasi, dan pandangan hidup yang terkandung dalam sastra dapat dipahami dan dinikmati oleh orang lain.
Model pembelajaran cerpen dengan piranti peran merupakan salah satu program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, serta sikap positif siswa terhadap karya sastra (cerpen).

C.          Fungsi dan Tujuan


1.            Fungsi
Pada dasarnya model pembelajaran cerpen ini disiapkan dengan mempertimbangkan kedudukan dan fungsi sastra sebagai hasil cipta intelektual produk budaya yang berkonsekuensi pada fungsi mata pelajaran kesusastraan Indonesia sebagai:
a.       Sarana pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa.
b.     Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya.
c.       Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
d.      Sarana pemahaman beraneka ragam budaya Indonesia melalui khazanah kesusastraan Indonesia.

2.            Tujuan
Secara umum tujuan model pembelajaran sastra cerpem dengan piranti peran ini adalah sebagai berikut:
a.  Siswa mampu memahami dan mengapresiasikan ragam karya sastra (cerpen) sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.
b.   Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra (cerpen) untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan, serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

D.          Pendekatan dalam Pembelajaran

Dalam pembelajaran pendekatan yang digunakan sangat terkait dengan fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Pembelajaran ini diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi.
Keterampilan ini diperkaya oleh fungsi utama sastra untuk pengahalus budi, peningkatan rasa kemanusiaan dan kepribadian sosial, pemumbuh apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imajinasi dan ekpresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tulis. Oleh karena itu, model pembelajaran ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menikmati, menghayati, dan memahami karya sastra.


PEMBAHASAN


Menurut Syah (2001: 55) belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling vital dalam usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan. Karena pentingnya arti belajar, maka bagian terbesar diarahkan pada tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia itu.

A.          Pembelajaran Apresiasi Sastra


Mulyasa (2003: 100) menyatakan pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara pembelajar dan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan kelas. Dengan kata lain adalah memilih model atau strategi pembelajaran untuk menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi siswa.
Belajar apresiasi adalah belajar mempertimbangkan (judgment), arti penting atau suatu objek. Tujuannya agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ke ranah rasa (affective skill) yang dalm hal ini kemampuan mengahrgai secara tepat terhadap nilai objek tertentu. Misalnya, apresiasi sastra, apresiasi musik, dan lain sebagainya. Dalam penerapannya, apresiasi sering diartikan sebagai penghargaan atau penilaian terhadap benda-benda, baik abstrak maupun kongkrit yang memiliki nilai luhur (Syah, 2001: 112).
Dalam pembelajaran apresiasi sastra (cerpen), hal yang paling utama dibahas adalah mengenai pengetahuan sastra adalah istilah dan konsep unsur pembagian karya sastra, yang dikenal dengan unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik sastra. Untuk cerpen menurut Whorter (1992) unsur yang lazim dibahas adalah alur cerita (plot), latar (setting), penokohan, sudut pandang (point of view), nada (tone) dan tema.


Tindak apresiasi sastra yang diharapkan mewujud pada pemahaman belajar siswa. Yaitu kemampuan untuk menghayati atau menikmati karya sastra. Dalam merencanakan pembelajaran, guruharus memusatkan kegiatan di kelas dengan sebaik-baiknya agar dapat membantu siswa membaca, mendengarkan, berbicara, menulis, menginterpretasikan, dan memperoleh respon yang matang terhadap karya sastra. Guru harus dapat memberikan kesempatan kepas siswa untuk menikmati karya sastra melalui pengalaman membaca sesuai dengan latar belakang kemampuan apresiasinya, karena harapam mereka tehadap makna dan keindahan karya sastra bersifat personal. Setelah kegiatan pembelajaran berlangsung, guru dapat mngenali tingkat pemahaman siswa terhadap karya sastra yang diapresiasikanya sesuai dengan reader-response. Tingkat pemahaman siswa terhadap karya sastra digambarkan sebagai berikut:
1.   Tingkat pertama                : pemahaman literal
2.   Tingkat kedua                   : emapati
3.   Tingkat ketiga                   : analogi
4.   Tingkat keempat               : interpretasi
5.   Tingkat kelima                  : evaluasi fiksi
6.   Tingkat keenam                 : penagkuan atau penghargaan
Dalam pembelajaran sastra dewasa ini telah banyak strategi pembelajaran yang tersedia. Strategi itu sesuai dan spesifik dengan pembelajaran sastra tersebut. Sebelum jauh mengupas strategi pembelajaran, perlu pula disampaikan bahwa strategi itu meliputi pendekatan, metode, dan teknik.
Menurut Suyatno (2004: 15) pendekatan adalah konsep dasar yang meliputi metode dengan cakupan teroritis tertentu. Metode merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan dari pendekatan. Satu pendekatakan dapat dijabarkan ke dalam berbagi metode. Metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan, dari metode teknik pembelajaran diturunkan secara aplikasikan melalui teknik pembelajaran. teknik adalah cara kongket yang dipakai pada saat pembelajaran berlangsung. Guru dapat bervariasi teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan dapat menerapakan berbagai strategi yang di dalamnya terdapat pendekatan, metode dan teknik secara spesifik.

B.           Model Pembelajaran

Berikut ini pendekatan, metode da teknik pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran apresiasi sastra khususnya cerpen

1.            Pendekatan Konstektual
Pedekatan konstektual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu para guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan medorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Depdiknas, 2002: 1).
Dengan konsep tersebut, hasil pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Ada tujuh elemen penting dalam pendekatan ini, yaitu konstruktivisme (contructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). Dari ketujuh elemen ini dapat diaplikasikan dalam keseluruhan pembelajaran (Suyatno, 2004: 4, Depdiknas, 2002:10).
Dalam penerapannya, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dalam banyak situasi, menemukan AMBAK sama saja dengan menciptakan minat dalam apa yang sedang mereka pelajari dengan menghubungkan dunia nyata. Ini terutama dalam situasi belajar yang formal. Apakah itu kelas malam, senimar akhir minggu, belajar di kampus, mereka harus mencari cara untuk menjadikannya berarti bagi hidup mereka sendiri (Deporter, 2002:48). Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai kompetensi dasar yang dicapainya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Pendekatan kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran lebih produktif dan bermakna, serta dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada.

2.            Metode Partisipatori
Metode pembelajaran partisipatori ini lebih menekankan partisipasi siswa secara penuh. Siswa dianggap sebagai penemu keberhasilan belajar. Siswa didudukan sebagai subjek belajar, dengan berpartisipasi aktif, siswa dapat menemukan hasil belajar. Guru hanya sebagai pemandu atau fasilitator.
Berkiatan dengan penyikapan guru kepada siswa, Suyatno (2004: 36) memberikan tanggapan mengenai partisipatori, yaitu:
a.       Setiap siswa adalah unik
b.      Anak bukan orang dewasa dalam bentuk kecil
c.       Dunia anak adalah dunia bermain dan belajar
d.      Usia anak merupakan usia yang paling kreatif hidup manusia
Dalam metode ini, siswa aktif, dinamis, dan berlaku sebagai objek. Namun, bukan berarti guru harus pasif. Akan tetapi, guru juga aktif dalam memfasilitasi belajar siswa. Guru berperan sebagai pemandu yang penuh dengan motivasi, pandai sebagai mediator dan kreatif. Konteks siswa menjadi tumpuan utama.

3.            Teknik Piranti Peran
Merespon karya sastra (cerpen) siswa membuat kantong yang di dalamnya berisi piranti untuk berperan. Di dalam kantong tersebut ada berbagai macam barang/alat yang telah dipilih dan dikumpulkan oleh siswa sehubungan dengan cerpen yang dibacanya. Kantong itu sendiri dibuat dan dihiasi siswa dengan gagasan atau aspek-aspek yang terdapat dalam cerpen tersebut. Guru menjelaskan bahwa kantong tersebut merupakan kantong contoh (sampel), tidak harus mencerminkan secara lengkap seluruh isi cerpen. Misalnya, dalam cuplikan cerpen anak-anak yang berjudul “Pak Lebai yang Malang”, (dari petualangan Pak Lebai). Siswa memilih tokoh Pak Lebai. Di dalam kantongnya, siswa itu menyimpan piranti, antara lain pancing atau kail, topi, rokok, kacamata, dan lain-lain.

Tujuannya :
-          siswa dapat membuat kantong dan dihiasi sesuai dengan gagasan atau aspek yang terdapat dalam cerpen.
-          Siswa dapat memerankan tokoh cerita dengan cara monolog atau dialog.
Alat yang digunakan:
-          Lemabar foto kopi cerita, lembar kertas kosong
Kegiatan ini dapat dilakukan secara berpasangan atau kelompok
Cara menerapkannya:
1.      Guru memberikan pejelasan pembelajaran hari itu.
2.      Guru membentuk kelompok kecil
3.      Guru membagikan lembar foto kopi cerita kepada masing-masing kelompok.
4.      Siswa membaca cerpen yang berjudul “Pak Lebai yang Malang”.
5.    Siswa berdiskusi tentang latar belakang dan isi cerpen tersebut, khususnya hal-hal yang berkaitan dengan:
a.       Nilai-nilai sosial budaya
b.      Segala sesuatu yang menarik yang dapat dipetik sebagi pelajaran hidup
6. Siswa menyusun naskah atau scenario untuk memerankan salah satu tokoh cerita yang disenangi (dilakukan secara kelompok 4 siswa). Melalui diskus, kelompok dapat memilih salah satu anggota sebagai pemeran. Anggota lain membantu menyiapkan pemeranan, antara lain menyiapkan piranti. Pada kegiatan ini siswa melakukan identifikasi dan analisis terhadap semua kebutuhan (piranti) untuk bemain peran.
7.    Siswa berlatih bemain peran dengan anggota kelompok, pemeran berlatih hingga siap tampil di depan kelas.
8.      Siswa bermain di depan kelas secara bergiliran, ketika salah seorang siswa bermain peran, siswa yang lain menyimak dan mengamati sambil mencatat hal-hal yang menarik dari pemeranan itu. catatan ini akan digunakan oleh siswa untuk memberikan penilaian terhadap pemeranan teman sekelasnya.


9.      Siswa menyampaikan tanggapan, komentar atau penilaian terhadap penampilan temannya.
10.  Guru memberikan refleksi pembelejaran hari itu.
Berdasarkan langkah-langkah pembelajaran tersebut, dapat dijelaskan bahwa pentingnya strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru. Hal itu dapat mengenalkan guru pada tiga gaya belajar, yaitu gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik. Deporter (2001: 50) menyatakan bahwa ketiga gaya belajar tersebut dapat membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar yang ada. Setelah mengenal gaya-gaya tersebut, guru telah menunjukkan kepada siswa cara berkonsentrasi, mencatat hal-hal yang efektif, belajar untuk ujian, meningkatkan kecaepatan membaca, pemahaman, dan kemampuan mereka untuk menghafalkan. Hal ini terbukti selama proses pembelajaran berlangsung. Sehingga langkah-langkah tersebut dapat berpengaruh pada karir akademik dan cara mereka melihat diri sendiri bagaimana kemampuan mereka sebagi siswa yang belajar sepanjang hidup.

 PENUTUP

          Sejalan dengan otonomi daerah yang sudah bergulir. Pada masa sekarang atau mendatang, tentunya akan ada pergeseran paradigma pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan pendidikan. Salah satu desakan yang muncul adalah usaha untuk mengembalikan pendidikan kepada masyarakat. Berkait dengan hal itu, guru khususnya yang menangani pedidikan harus berani dan mempunyai komitmen untuk mengubah paradigma yang dipegang selama ini ke paradigma yang baru yang justru dibutuhkan oleh masyarakat. Paradigma itu adalah model pembelajaran yang mengintegrasikan antara IQ, EQ, SQ dan kecerdasan yang lainnya.
          Bedasarkan uraian tersebut, pendidikan haruslah berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan diri sendiri. Oleh karena itu, pendidikan harus melibatkan tiga unsure sekaligus dalam hubungan dialektika yang ajeg, yaitu siswa, guru dan realitas dunia. Yang pertama dan kedua adalah subjek yang sadar. Sedangkan yang ketiga adalah objek yang tersadari. Hubungan dialektika semacam ini yang tidak terdapat dalam system pendidikan mapan selama ini.
          Oleh Karena itu, guru perlu menguasai dan dapat menerapakan berbagai strategi yang di dalamnya terdapat pendekatan, metode, dan teknik secara spesifik. Salah satunya adalah model pembelajaran sastra (cerpen) yang diuraikan di atas. Akhirnya, bagaimana implementasinya di kelas? Kegiatan di kelas harus mempertimbangkan bahwa kelas adalah sebuah lingkungan belajar atau tempat siswa termotivasi untuk mengadakan tawar-menawar makna (antara siswa dengan karya sastra dan pengarangnya). melalui pengalaman membaca (menyimak) siswa berdasarkan ketajaman kemampuan meresponnya. Respon-respon itu bergantung pada seberapa hebat atau matangnya pengalaman apresiasi siswa.
Untuk mendukung asumsi tersebut dan memperluas peran guru, berikut ini beberapa pedoman umum yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, di antaranya:
-     Guru memanfaatkan kelas dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjelajahi dan mengembangkan pemahaman terhadap karya sastra.
-    Guru berusaha menerapkan pemahaman terhadap makna dan keindahan karya sastra dimulai dengan kegiatan “kesan permulaan”.
-          Guru memandu siswa mengadakan diskusi tentang makna karya sastra.
-     Guru mendorong siswa mengembangkan interpretasi-interpretasi terhadap makna dan keindahan karya sastra.
-    Guru membantu siswa mencapai tingkat kematangan apresiasi dengan perhatian mereka, yakni hubungan antara ide mereka dengan hal-hal yang telah dibaca, didiskusikan, diapresiasikan dan yang dialami dalam karya sastra dan kenyataan sehari-hari.
         Berdasarkan beberapa pedoman umum  yang digunakan dalam proses pembelajaran tersebut, guru dapat memberikan konstribusi yang besar terhadap pemerolehan pendidikan siswa. Sehingga tercapailah tujuan pendidikan yang selama ini didambakan oleh semua pihak.

 
DAFTAR PUSTAKA


Depdiknas. 2002. Pendidikan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Mata Pelajaran bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas.

Deporter, Bobbi. Mark Reardon. Sarah Singer-Noure. 2001. Quatum Teaching. Bandung: Kaifa.

-----------, dan Mike Hemacki. 2002. Quatum Learning. Bandung: Kaifa.

Mulyasa, E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi tentang Konsep Karakteristik Implementasi dan Inovasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakrya.

Syah, Muhibbin. 2001. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.

Suyatno. 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Penerbit SIC.

Whorter, KT. 1992. Efficient and Flexible Reading. Niagara County. Community College: Hepper Collin Publisher.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar