MODEL PEMBELAJARAN CERPEN
PIRANTI PERAN
Oleh: Moch. Kusairi
PENDAHULUAN
A. RASIONAL
GBHN menegaskan perlunya diversifikasi kurikulum
yang dapat melayani keanekaragaman kemampuan sumber daya manusia, kemampuan
siswa dan sarana pembelajaran dan budaya di daerah. Diversifikasi kurikulum
menjamin hasil pendidikan bermutu yang dapat membentuk masyarakat Indonesia
yang damai, sejahtera, demokratis dan berbudaya.
Seiring
dengan perwujudan dan pemerataan hasil pendidikan yang berkualitas,
diperlukan standar kompetensi bahan kajian mata pelajaran yang memuat
kompetensi bahan pelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan dalm konteks
nasional dan global. Salah satu standar kompetensi itu adalah model
pembelajaran yang memuat bahan kajian yang harus dikuasai oleh pemelajar
(guru).
Fokus hasil pendidikan yang berkualitas adalah siswa
yang sehat, mandiri, berbudaya, berakhlak mulia, beretos kerja, berpengatahuan,
dan menguasai teknologi serta cinta tanah air (Depdiknas, 2003:1). Standar
kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia berorientasi pada hakikat
pembelajaran bahasa, yaitu belajar berbahasa. Belajar berbahasa adalah belajar
berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan
nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa dan sastra
Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi,
baik secara lisan maupun tulis.
Dengan kerangka yang demikian itu, tentunya perlu
adanya standar model pembelajaran kesusastraan (cerpen) yang searah dengan jiwa
perubahan yang mendasar dalam pengelolaan pendidikan. Dalam hal ini guru dapat
aktif menjabarkan standar model pembelajaran ini sesuai dengan keadaan dan
kebutuhan siswa.
B. Pengertian
Bahasa dan perwujudannya merupakan struktur, yang mencakup struktur
bentuk dan makna. Dengan menggunakan wujud bahasa itu, manusia saling
berkomunikasi, sehingga dapat saling berbagi dan saling belajar untuk
meningkatkan intelektualnya. Dengan menggunakan bahasa manusia dapat juga
melakukan kegiatan berekpresi dan berkreasi, sehingga terciptalah karya sastra
(cerpen). Karya sastra pun dapat digunakan untuk berkomunikasi, sehingga
perasaan, imajinasi, dan pandangan hidup yang terkandung dalam sastra dapat
dipahami dan dinikmati oleh orang lain.
Model pembelajaran cerpen dengan piranti peran merupakan salah satu
program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, serta sikap positif
siswa terhadap karya sastra (cerpen).
C. Fungsi dan Tujuan
1.
Fungsi
Pada dasarnya model pembelajaran cerpen ini
disiapkan dengan mempertimbangkan kedudukan dan fungsi sastra sebagai hasil
cipta intelektual produk budaya yang berkonsekuensi pada fungsi mata pelajaran
kesusastraan Indonesia sebagai:
a.
Sarana pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa.
b. Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam
rangka pelestarian dan pengembangan budaya.
c.
Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk
meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
d.
Sarana pemahaman beraneka ragam budaya Indonesia
melalui khazanah kesusastraan Indonesia.
2.
Tujuan
Secara umum tujuan model pembelajaran sastra cerpem
dengan piranti peran ini adalah sebagai berikut:
a. Siswa mampu memahami dan mengapresiasikan ragam karya
sastra (cerpen) sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.
b. Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra
(cerpen) untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan, serta
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.
D. Pendekatan dalam Pembelajaran
Dalam pembelajaran pendekatan yang digunakan sangat terkait dengan fungsi
bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Pembelajaran ini
diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi.
Keterampilan ini diperkaya oleh fungsi utama sastra untuk pengahalus
budi, peningkatan rasa kemanusiaan dan kepribadian sosial, pemumbuh apresiasi
budaya dan penyaluran gagasan, imajinasi dan ekpresi secara kreatif dan
konstruktif, baik secara lisan maupun tulis. Oleh karena itu, model
pembelajaran ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menikmati,
menghayati, dan memahami karya sastra.
PEMBAHASAN
Menurut Syah
(2001: 55) belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling vital
dalam usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak ada
pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang
luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya kependidikan.
Karena pentingnya arti belajar, maka bagian terbesar diarahkan pada tercapainya
pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia itu.
A. Pembelajaran Apresiasi Sastra
Mulyasa (2003: 100) menyatakan pembelajaran pada hakikatnya adalah proses
interaksi antara pembelajar dan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan
perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling
utama adalah mengkondisikan lingkungan kelas. Dengan kata lain adalah memilih
model atau strategi pembelajaran untuk menunjang terjadinya perubahan perilaku
bagi siswa.
Belajar apresiasi adalah belajar mempertimbangkan (judgment), arti
penting atau suatu objek. Tujuannya agar siswa memperoleh dan mengembangkan
kecakapan ke ranah rasa (affective skill) yang dalm hal ini kemampuan
mengahrgai secara tepat terhadap nilai objek tertentu. Misalnya, apresiasi
sastra, apresiasi musik, dan lain sebagainya. Dalam penerapannya, apresiasi
sering diartikan sebagai penghargaan atau penilaian terhadap benda-benda, baik
abstrak maupun kongkrit yang memiliki nilai luhur (Syah, 2001: 112).
Dalam pembelajaran apresiasi sastra (cerpen), hal
yang paling utama dibahas adalah mengenai pengetahuan sastra adalah istilah dan
konsep unsur pembagian karya sastra, yang dikenal dengan unsur intrinsik dan
unsur ekstrinsik sastra. Untuk cerpen menurut Whorter (1992) unsur yang lazim
dibahas adalah alur cerita (plot), latar (setting), penokohan,
sudut pandang (point of view), nada (tone) dan tema.
Tindak apresiasi sastra yang diharapkan mewujud pada pemahaman belajar
siswa. Yaitu kemampuan untuk menghayati atau menikmati karya sastra. Dalam
merencanakan pembelajaran, guruharus memusatkan kegiatan di kelas dengan
sebaik-baiknya agar dapat membantu siswa membaca, mendengarkan, berbicara,
menulis, menginterpretasikan, dan memperoleh respon yang matang terhadap karya
sastra. Guru harus dapat memberikan kesempatan kepas siswa untuk menikmati
karya sastra melalui pengalaman membaca sesuai dengan latar belakang kemampuan
apresiasinya, karena harapam mereka tehadap makna dan keindahan karya sastra
bersifat personal. Setelah kegiatan pembelajaran berlangsung, guru dapat
mngenali tingkat pemahaman siswa terhadap karya sastra yang diapresiasikanya
sesuai dengan reader-response. Tingkat pemahaman siswa terhadap karya
sastra digambarkan sebagai berikut:
1. Tingkat pertama : pemahaman literal
2. Tingkat kedua : emapati
3. Tingkat ketiga : analogi
4. Tingkat keempat : interpretasi
5. Tingkat kelima : evaluasi fiksi
6. Tingkat keenam : penagkuan atau penghargaan
Dalam pembelajaran sastra dewasa ini telah banyak
strategi pembelajaran yang tersedia. Strategi itu sesuai dan spesifik dengan
pembelajaran sastra tersebut. Sebelum jauh mengupas strategi pembelajaran,
perlu pula disampaikan bahwa strategi itu meliputi pendekatan, metode, dan
teknik.
Menurut Suyatno (2004: 15) pendekatan adalah konsep
dasar yang meliputi metode dengan cakupan teroritis tertentu. Metode merupakan
jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan dari pendekatan. Satu
pendekatakan dapat dijabarkan ke dalam berbagi metode. Metode adalah prosedur
pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan, dari metode teknik
pembelajaran diturunkan secara aplikasikan melalui teknik pembelajaran. teknik
adalah cara kongket yang dipakai pada saat pembelajaran berlangsung. Guru dapat
bervariasi teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Oleh karena itu,
guru perlu menguasai dan dapat menerapakan berbagai strategi yang di dalamnya
terdapat pendekatan, metode dan teknik secara spesifik.
B. Model Pembelajaran
Berikut ini pendekatan, metode da teknik
pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran apresiasi sastra
khususnya cerpen
1.
Pendekatan Konstektual
Pedekatan konstektual (Contextual Teaching and
Learning) merupakan konsep belajar yang membantu para guru mengaitkan
antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan medorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan kehidupan
mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Depdiknas, 2002: 1).
Dengan konsep tersebut, hasil pembelajaran lebih bermakna bagi siswa.
Proses pembelajran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa
bekerja dan mengalami, bukan sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Ada tujuh elemen penting dalam pendekatan ini, yaitu konstruktivisme (contructivism),
menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning
community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic
assessment). Dari ketujuh elemen ini dapat diaplikasikan dalam
keseluruhan pembelajaran (Suyatno, 2004: 4, Depdiknas, 2002:10).
Dalam penerapannya, siswa perlu mengerti apa makna
belajar, apa manfaatnya dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya.
Dalam banyak situasi, menemukan AMBAK sama saja dengan menciptakan minat dalam
apa yang sedang mereka pelajari dengan menghubungkan dunia nyata. Ini terutama
dalam situasi belajar yang formal. Apakah itu kelas malam, senimar akhir
minggu, belajar di kampus, mereka harus mencari cara untuk menjadikannya
berarti bagi hidup mereka sendiri (Deporter, 2002:48). Dalam kelas kontekstual,
tugas guru adalah membantu siswa mencapai kompetensi dasar yang dicapainya.
Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi
informasi. Pendekatan kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran
lebih produktif dan bermakna, serta dapat dijalankan tanpa harus mengubah
kurikulum dan tatanan yang ada.
2.
Metode Partisipatori
Metode pembelajaran partisipatori ini lebih menekankan partisipasi siswa
secara penuh. Siswa dianggap sebagai penemu keberhasilan belajar. Siswa
didudukan sebagai subjek belajar, dengan berpartisipasi aktif, siswa dapat
menemukan hasil belajar. Guru hanya sebagai pemandu atau fasilitator.
Berkiatan dengan penyikapan guru kepada siswa,
Suyatno (2004: 36) memberikan tanggapan mengenai partisipatori, yaitu:
a.
Setiap siswa adalah unik
b.
Anak bukan orang dewasa dalam bentuk kecil
c.
Dunia anak adalah dunia bermain dan belajar
d.
Usia anak merupakan usia yang paling kreatif hidup
manusia
Dalam metode ini, siswa aktif, dinamis, dan berlaku
sebagai objek. Namun, bukan berarti guru harus pasif. Akan tetapi, guru juga
aktif dalam memfasilitasi belajar siswa. Guru berperan sebagai pemandu yang
penuh dengan motivasi, pandai sebagai mediator dan kreatif. Konteks siswa
menjadi tumpuan utama.
3.
Teknik Piranti Peran
Merespon karya sastra (cerpen) siswa membuat kantong
yang di dalamnya berisi piranti untuk berperan. Di dalam kantong tersebut ada
berbagai macam barang/alat yang telah dipilih dan dikumpulkan oleh siswa
sehubungan dengan cerpen yang dibacanya. Kantong itu sendiri dibuat dan dihiasi
siswa dengan gagasan atau aspek-aspek yang terdapat dalam cerpen tersebut. Guru
menjelaskan bahwa kantong tersebut merupakan kantong contoh (sampel), tidak
harus mencerminkan secara lengkap seluruh isi cerpen. Misalnya, dalam cuplikan
cerpen anak-anak yang berjudul “Pak Lebai yang Malang”, (dari
petualangan Pak Lebai). Siswa memilih tokoh Pak Lebai. Di dalam kantongnya,
siswa itu menyimpan piranti, antara lain pancing atau kail, topi, rokok,
kacamata, dan lain-lain.
Tujuannya :
-
siswa dapat membuat kantong dan dihiasi sesuai dengan
gagasan atau aspek yang terdapat dalam cerpen.
-
Siswa dapat memerankan tokoh cerita dengan cara monolog
atau dialog.
Alat yang
digunakan:
-
Lemabar foto kopi cerita, lembar kertas kosong
Kegiatan ini
dapat dilakukan secara berpasangan atau kelompok
Cara
menerapkannya:
1.
Guru memberikan pejelasan pembelajaran hari itu.
2.
Guru membentuk kelompok kecil
3.
Guru membagikan lembar foto kopi cerita kepada
masing-masing kelompok.
4.
Siswa membaca cerpen yang berjudul “Pak Lebai yang
Malang”.
5. Siswa berdiskusi tentang latar belakang dan isi cerpen
tersebut, khususnya hal-hal yang berkaitan dengan:
a.
Nilai-nilai sosial budaya
b.
Segala sesuatu yang menarik yang dapat dipetik sebagi
pelajaran hidup
6. Siswa menyusun naskah atau scenario untuk memerankan
salah satu tokoh cerita yang disenangi (dilakukan secara kelompok 4 siswa).
Melalui diskus, kelompok dapat memilih salah satu anggota sebagai pemeran.
Anggota lain membantu menyiapkan pemeranan, antara lain menyiapkan piranti.
Pada kegiatan ini siswa melakukan identifikasi dan analisis terhadap semua
kebutuhan (piranti) untuk bemain peran.
7.
Siswa berlatih bemain peran dengan anggota kelompok,
pemeran berlatih hingga siap tampil di depan kelas.
8.
Siswa bermain di depan kelas secara bergiliran, ketika
salah seorang siswa bermain peran, siswa yang lain menyimak dan mengamati
sambil mencatat hal-hal yang menarik dari pemeranan itu. catatan ini akan
digunakan oleh siswa untuk memberikan penilaian terhadap pemeranan teman
sekelasnya.
9.
Siswa menyampaikan tanggapan, komentar atau penilaian
terhadap penampilan temannya.
10. Guru
memberikan refleksi pembelejaran hari itu.
Berdasarkan langkah-langkah pembelajaran tersebut,
dapat dijelaskan bahwa pentingnya strategi pembelajaran yang digunakan oleh
guru. Hal itu dapat mengenalkan guru pada tiga gaya belajar, yaitu gaya belajar
visual, auditorial, dan kinestetik. Deporter (2001: 50) menyatakan bahwa ketiga
gaya belajar tersebut dapat membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang sesuai dengan kompetensi dasar yang ada. Setelah mengenal gaya-gaya
tersebut, guru telah menunjukkan kepada siswa cara berkonsentrasi, mencatat
hal-hal yang efektif, belajar untuk ujian, meningkatkan kecaepatan membaca,
pemahaman, dan kemampuan mereka untuk menghafalkan. Hal ini terbukti selama
proses pembelajaran berlangsung. Sehingga langkah-langkah tersebut dapat
berpengaruh pada karir akademik dan cara mereka melihat diri sendiri bagaimana
kemampuan mereka sebagi siswa yang belajar sepanjang hidup.
PENUTUP
Sejalan dengan otonomi daerah yang sudah bergulir.
Pada masa sekarang atau mendatang, tentunya akan ada pergeseran paradigma
pendidikan yang berkaitan dengan pengelolaan pendidikan. Salah satu desakan
yang muncul adalah usaha untuk mengembalikan pendidikan kepada masyarakat.
Berkait dengan hal itu, guru khususnya yang menangani pedidikan harus berani
dan mempunyai komitmen untuk mengubah paradigma yang dipegang selama ini ke
paradigma yang baru yang justru dibutuhkan oleh masyarakat. Paradigma itu
adalah model pembelajaran yang mengintegrasikan antara IQ, EQ, SQ dan
kecerdasan yang lainnya.
Bedasarkan uraian tersebut, pendidikan haruslah berorientasi
pada pengenalan realitas diri manusia dan diri sendiri. Oleh karena itu,
pendidikan harus melibatkan tiga unsure sekaligus dalam hubungan dialektika
yang ajeg, yaitu siswa, guru dan realitas dunia. Yang pertama dan kedua adalah
subjek yang sadar. Sedangkan yang ketiga adalah objek yang tersadari. Hubungan
dialektika semacam ini yang tidak terdapat dalam system pendidikan mapan selama
ini.
Oleh Karena itu, guru perlu menguasai dan dapat
menerapakan berbagai strategi yang di dalamnya terdapat pendekatan, metode, dan
teknik secara spesifik. Salah satunya adalah model pembelajaran sastra (cerpen)
yang diuraikan di atas. Akhirnya, bagaimana implementasinya di kelas? Kegiatan
di kelas harus mempertimbangkan bahwa kelas adalah sebuah lingkungan belajar atau
tempat siswa termotivasi untuk mengadakan tawar-menawar makna (antara siswa
dengan karya sastra dan pengarangnya). melalui pengalaman membaca (menyimak)
siswa berdasarkan ketajaman kemampuan meresponnya. Respon-respon itu bergantung
pada seberapa hebat atau matangnya pengalaman apresiasi siswa.
Untuk mendukung asumsi tersebut dan memperluas peran
guru, berikut ini beberapa pedoman umum yang dapat digunakan dalam proses
pembelajaran, di antaranya:
- Guru memanfaatkan kelas dengan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menjelajahi dan mengembangkan pemahaman terhadap karya
sastra.
- Guru berusaha menerapkan pemahaman terhadap makna dan
keindahan karya sastra dimulai dengan kegiatan “kesan permulaan”.
-
Guru memandu siswa mengadakan diskusi tentang makna
karya sastra.
- Guru mendorong siswa mengembangkan
interpretasi-interpretasi terhadap makna dan keindahan karya sastra.
- Guru membantu siswa mencapai tingkat kematangan
apresiasi dengan perhatian mereka, yakni hubungan antara ide mereka dengan
hal-hal yang telah dibaca, didiskusikan, diapresiasikan dan yang dialami dalam
karya sastra dan kenyataan sehari-hari.
Berdasarkan beberapa pedoman umum yang digunakan dalam proses pembelajaran
tersebut, guru dapat memberikan konstribusi yang besar terhadap pemerolehan
pendidikan siswa. Sehingga tercapailah tujuan pendidikan yang selama ini
didambakan oleh semua pihak.
DAFTAR
PUSTAKA
Depdiknas. 2002. Pendidikan Kontekstual (Contextual Teaching
and Learning). Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Mata Pelajaran bahasa Indonesia.
Jakarta: Depdiknas.
Deporter, Bobbi. Mark Reardon. Sarah Singer-Noure. 2001. Quatum
Teaching. Bandung: Kaifa.
-----------, dan Mike Hemacki.
2002. Quatum Learning. Bandung: Kaifa.
Mulyasa, E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi tentang Konsep
Karakteristik Implementasi dan Inovasi. Bandung: PT. Remaja
Rosdakrya.
Syah, Muhibbin. 2001. Psikologi
Belajar. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.
Suyatno. 2004. Teknik
Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Penerbit SIC.
Whorter, KT. 1992. Efficient and Flexible Reading. Niagara
County. Community College: Hepper Collin Publisher.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar